Tech

Team Sunan Suroprobo ( PAC JRA Pleret ) Sowan Para Tokoh MWC NU Kapanewon Pleret


Pleret 18 Mei 2022.

Praktisi dan Pengurus Anak Cabang Yayasan Jam’iyyah Ruqyah Aswaja Sunan Suroprobo Kapanewon Pleret pada malam Kamis 18 Mei 2022 melakukan kunjungan silaturahim ke Pembina JRA Pleret KH Gufron Haris Wonokromo I, Ketua Tanfidziyah Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Pleret Dr. Imam Muhsin Kerto Tengah dan Rois Syuriah Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Pleret K.Ja’far Shodiq Jejeran I.

Dalam acara silaturahim tersebut pengurus memaparkan program-program dan kegiatan JRA Pleret yang akhir-akhir ini telah dilaksanakan.


Kegiatan yang dipaparkan seperti mujahadah praktisi setiap malam rabu, ruqyah massal, bekam, penguatan robithoh dengan ziarah makam Aulia, kegiatan sosial membantu warga yang sedang susah karena terkena musibah, menyalurkan zakat, infaq dan sedekah, silaturahim dan dakwah dimedsos yang semuanya bertujuan mendukung gerakan dakwah JRA yang tujuan utamanya mendakwahkan Al-Qur an sebagai Syifa’.

Dalam kesempatan tersebut dan pertemuan sebelumnya KH. Gufron Haris menyampaikan pentingnya menjaga Aqidah Aswaja An-Nahdliyyah sehingga termasuk para praktisi sekalipun hendaknya memperkuat Aqidahnya dengan mengaji kitab-kitab Tauhid seperti ‘Aqidatul ‘Awam dst, Kitab-kitab Fiqih seperti Safinatunnajah dst. dan kitab-kitab hikmah seperti Al-Hikam Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari.

Dalam kesempatan tersebut Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Al-Imam Wonokromo tersebut mengungkapkan bahwa KH Hasyim Asy’ari Muassis NU dan KH Ahmad Dahlan Muassis Muhammadiyah pernah nyantri di Wonokromo yaitu berguru kepada KH Kholil Wonokromo. KH Kholil adalah salah seorang ‘ulama yang juga menjadi gurunya (1) KH Zaini bin KH Abdullah Kanggotan, KH Imam adalah ulama Wonokromo yang pertama (2) kalinya memasukkan Nahdlatul Ulama di Wilayah Yogyakarta, sedangkan KH Kholil yang menjadi Rois Syuriah pertama kalinya, dan istilahnya hanya Rois Syuriah saja, tidak menjelaskan Rois Syuriah tingkat Wilayah, Cabang, Kapanewon atau Kalurahan karena saat itu memang belum terstruktur begitu. Kapanewon Pleret yang menjadi Wilayah kerja MWC NU Pleret ini memang istimewa karena NU pertama kali masuk Yogyakarta lewat Pleret, Ulama yang memasukkannya juga orang Pleret, Rois Syuriah pertama se Yogyakarta orang Pleret, Pondok Pesantren tertua (3) se-Yogyakarta ada di Kanggotan, Pleret, bahkan Pusat Kerajaan Mataram Darussalam era Sultan Agung Hanyokrokusumo juga hanya ada di Kerto, Pleret.

Sedangkan Ketua Tanfidziyah MWC NU Pleret Dr. Imam Muhsih memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas program dan kegiatan JRA Sunan Suroprobo Pleret saat kunjungan silaturahim JRA Pleret di kediaman Beliau. Selain itu beliau juga mengungkapkan kesetujuannya jika akan didirikan klinik Ruqyah di wilayah Pleret kerjasama LKNU MWC NU Pleret dan JRA Pleret karena dengan itu nantinya masyarakat yang membutuhkannya mudah mengaksesnya. Selain itu beliau juga mendorong para Praktisi JRA untuk terus semangat mendakwahkan Al-Qur an sebagai syifa’, beliau mengaku juga sering memantau kegiatan-kegiatan JRA Pleret selama ini.

Beliau juga berharap suatu saat ada kegiatan Ziarah bersama-sama antara Pengurus MWC NU Pleret dan Para Praktisi JRA Pleret ke makam Para Aulia.
Setelah dirasa cukup Para Praktisi JRA Pleret segera berpamitan dan melanjutkan silaturahim sowan ke ndalem K. Ja’far Shodiq Rois Syuriah MWC NU Pleret di Jejeran I.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh Kyai Ja’far yang memang sudah diberitahu akan kedatangan mereka.
Setelah Kyai Ja’far mendengarkan penjelasan tentang program dan kegiatan JRA beliaupun memberikan apresiasinya. Beliau juga mengajak Para Praktisi JRA Pleret agar dalam berkhidmat di JRA diniatkan khidmat kepada Nahdlatul Ulama dengan niat yang ikhlas hanya bertujuan Li i’laai Kalimatillah atau Meluhurkan Kalimah Allah.
Selain itu Beliau menceritakan beberapa pengalaman beliau ketika menimba ‘ilmu di Pondok Pesantren. Beliau juga mengajak Para Praktisi untuk memperbanyak membaca Sholawat atas Baginda Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Syukur-syukur bisa membaca sholawat dengan shighot “Shollallahu ‘ala Muhammad” sebanyak 21.000 kali di makam seseorang yang masyhur kewaliannya, bisa sekali dijalankan, atau 7kali atau 21 kali atau 40 kali atau lebih, in syaa a Allah hajat akan dikabulkan ungkap Beliau.

#####

Catatan kaki:
1. Dari keterangan K.Mahmud Fauzi Pengasuh PP. An-Ni’nah Kanggotan

2. Dari keterangan KH Abdul Kholiq Syifa’ Wonokromo

3. Dari keterangan KH. Ashari Abta (PWNU DIY)

Ini ada tambahan untuk tulisan yg kemarin, juga ada tambahan dari kontributor yg mengambil dari berbagai sumber yang dijelaskan dicatatan kaki.


Kontributor: Ketua PAC Pleret

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Check Also
Close
Back to top button